Senin, 24 November 2014

Tugas Softskill III


Nama    :  Hanifah Febrilla
NPM    :  14214761
Kelas   :  1EA28          
Ilmu Budaya Dasar

1.      Perbedaan antara Budaya Nasional dan Budaya Internasional
·         Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
·         Budaya Internasional adalah bentuk perubahan budaya yang dilandasi oleh perubahan dan perkembangan zaman yang mempengaruhi budaya lokal yang dinamakan faktor globalisasi. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang tidak mengenal batas wilayah dan menghubungkan antara masyarakat di suatu negara dengan masyarakat di negara lain di seluruh dunia. Faktor globalisasi meliputi integrasi internasional yang terjdi karna pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. 

2.      Cara Melestarikan Budaya Indonesia agar tidak punah
a.       culture experience
culture experience adalah pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara terjun langsung. seperti contoh masyarakat dianjurkan mempelajari tarian daerah dengan baik. agar dalam setiap tahunnya tarian ini dapat di tampilkan dan diperkenalkan pada khalayak dengan demikian selain dapat melestarikan budaya kita juga dapat meemperkenalkan kebudayaan kita pada orang banyak.

b.      culture knowledge
culture knowladge merupakan pelestarian budaya dengan cara membuat pusat informasi kebudayaan. sehingga mempermudah seseorang untuk mencari tahu tentang kebudayaan. selain itu cara ini dapat menjadi sarana edukasi bagi para pelajar dan dapat pula menjadi sarana wisata bagi para wisatawan yang ingin mencari tahu serta ingin berkunjung ke indonesia dengan mendapatkan informasi dari pusat informasi kebudayaan tersebut.
selain 2 hal tersebut kita juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara sederhana berikut:
a. meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam memajukan budaya lokal.
b.  lebih mendorong kita untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta pemberdayaan dan pelestariannya.
c. berusaha menghidupkan kemballi semangat toleransi kekeluargaan, keramah-tamahan dan solidaritas yang tinggi.
d. selalu mempertahankan budaya indonesia agar tidak punah.
e. mengusahakan agar semua orang mampu mengelola keanekaragaman budaya lokal. oleh sebab itu kita sebagai warga indonesia sudah seharusnya berbangga dengan jutaan keindahan alam serta keanekaragaman budaya yang kita miliki. dan sudah sepatutnya kita melestarikan kebudayaan ini agar terus berkembang dan dapat di perkenalkan kepada seluruh dunia agar tidak ada peng-klaiman dari negara asing yang mengakui kebudayaan indonesia sebagai kebudayaannya.

1.      Keunggulan serta keindahan pulau Dewata Bali dan Budaya yang terdapat di Bali

  A.  Bali menjadi tempat favorit bagi para wisatawan

Bali merupakan tempat tujuan wisata yang populer di Indonesia. Bali sangat terkenal dengan keindahan pantai pantainya. Akan tetapi bukan hanya itu saja, Pulau Bali masih menyimpan berbagai tempat wisata menarik yang walau tidak seramai pantai kuta tetapi memiliki keindahan yang tetap mengagumkan. Banyak wisatawan yang kadang tidak tahu tempat-tempat tersebut. Hal ini dikarenakan kalah pamor dengan tempat-tempat wisata lain yang telah terlebih dahulu terkenal.
Namun dari sisi yang berbeda mengapa bali tetap menjadi tujuan wisata populer bagi wisatawan seluruh dunia adalah faktor ekonomis, ditambah pemandangan alam yang menakjubkan dan masih banyak lagi.
Berikut adalah alasan-alasan para wisatawan menjadikan bali sebagai tujuan wisata menurut kutipan sebuah perusahaan perjalanan Expedia and Escape Travel.
·         Penduduk Yang Ramah


Bali adalah rumah bagi penduduk yang paling ramah di dunia, dimana para turis dan wisatawan selalu disambut dengan hangat dalam senyuman. Para wisatawa merasa nyaman apabila kondisi masyarakat tempat nya berwisata seperti ini.

·         Kaya Warisan Budaya


Dibali terdapat masyarakat yang kaya akan cara hidup tradisional dan spiritual. Ada 20.000 lebih candi di pulau bali yang menjadi bagian kehidupan spiritual sehari-hari masyarakat bali. Festival-festival budaya dan upacara-upacara keagamaan yang penuh warna dengan tari-tarian dan musik rutin dilakukan.

·         Keindahan Alam



Bali dengan segala pesona keindahan alam nya, pegunungan, danau, gua suci, hutan tropis dan pantai yang dramatis merupakan favorit wisatawan.

·         Berburu Air Terjun


Air Terjun Gitgit yang terletak di sebelah selatan kota singaraja, sekitar 70km dari kota Denpasar. Dengan luas kurang lebih 40 meter air terjun Gitgit dengan kolam nya yang eksotis, selain indah air terjun ini juga memiliki cerita-cerita unik menurut penduduk lokal. Masih banyak lagi air terjun di bali untuk dieksplorasi wisatawan.

       -   Berbelanja


 adalah surga untuk berbelanja, pasar di Kuta, Ubud dan Sukawati dengan segala begitu banyak kios yang menjual segala macam pernak-pernik.

·         Ekonomis



Bali adalah tujuan wisata yang Ekonomis dimana segala nya terjangkau mulai dari penerbangan dan paket perjalanan yang tersedia. Biaya makanan, belanja dan segala biaya untuk hidup di Bali cukup murah.

·         Petualangan


Bali menyajikan segala macam pengalaman wisata petualangan alam dari wahana air waterboom, arung jeram, outbound di gunung Kintamani memberikan pengalaman luar biasa bagi wisatawan dari segala usia.

      B. Budaya yang terdapat di Bali


Kehidupan Sosial dan Budaya

Ritual upacara menjelangTahun Baru Saka | Foto dari: ruanghati.com
Tatanan sosial di Bali dibangun atas pembagian strata sosial yang dibagi ke dalam:
1.       Brahma, merupakan strata tertinggi yang diisi oleh para rohaniawan.
2.       Ksatria, merupakan strata yang diisi oleh para bangsawan dan pejabat kerajaan
3.       Waisya, merupakan strata yang diisi oleh para prajurit dan pedagang
4.       Sudra, strata untuk masyarakat biasa.
Meski bergelut dengan hantaman arus globalisasi yang dibawa bersamaan dengan para turis dan pedagang asing, serta derasnya informasi dan teknologi yang masuk, kebudayaan khas yang telah lama mengakar tetap kokoh sebagai ciri khas mereka.
Nama masing-masing individu dapat dilihat sebagai penunjuk strata sosial sekaligus eksistensi budaya yang ada di Bali, misal: Ida Bagus atau Ida Ayu merupakan nama yang dipakai oleh para Brahmana. Anak Agung Cokorda atau Dewa merupakan nama yang digunakan oleh para Ksatria. I Gusti merupakan nama yang digunakan bagi para Waisya, dan Wayan, Made, Nyoman, Ketut digunakan oleh para Sudra.



1. Upacara Kelahiran (Jatakarma Samskara)
Berbagai upacara dimulai sejak hari sebelum kelahiran. Misalnya, terdapat serangkaian larangan bagi ibu yang sedang hamil, yakni: tidak boleh makan makanan yang berdarah segar, hukumnya tidak boleh seperti ketika seorang wanita yang sedang menstruasi memasuki kuil; ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan untuk memakan daging kerbau atau babi; tidak boleh melihat orang yang terluka atau darah apalagi melihat orang yang meninggal; dan harus diam di rumah dengan upacara penyucian yang memungkinkan kelahirannya berjalan normal.
Bapak dari sang bayi diharapkan untuk hadir pada saat hari kelahiran sang bayi dan menemani sang istri. Ketika sang bayi lahir, sang bapak harus memotong ari-ari dengan menggunakan pisau bambu, lalu dimasukkan ke dalam kantung, dan kemudian dilingkarkan di leher sang bayi di kemudian hari.
Pada hari ke 21 setelah kelahiran sang bayi, menurut kalender Bali, sang bayi akan dipakaikan pakaian, seperti; gelang dari emas atau perak sesuai dengan sistem sosial yang ada. Ukuran kedewasaan bagi wanita ditentukan dari waktu pertama kali mengalami menstruasi dan kesiapan untuk menikah
Upacara kelahiran dan pubertas hanya merupakan pembuka dari serangkaian upacara dan perayaan yang menemani perjalanan setiap kegiatan keseharian masyarakat Bali, dari makan sampai menjelang tidur, dari berjalan sampai dengan bertutur kata.

2.  Upacara Potong Gigi (Mepandes)
Di antara upacara transisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali yaitu upacara potong gigi atau disebut juga mepandes, yaitu mengikis gigi bagian atas yang berbentuk taring. Tujuan upacara ini adalah untuk mengurangi sifat buruk (sad ripu). Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).




3.  Upacara Perkawinan (Pawiwahan)
Upacara transisi penting lainnya adalah pernikahan yang dalam bahasa Bali disebut Pawiwahan. Pawiwahan merupakan upacara persaksian ke hadapan Sang Hyang Widi dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.
4.  Upacara Kematian (Ngaben)
Upacara kematian yang dilakukan dengan cara kremasi merupakan upacara yang spektakuler dan dramatis karena merupakan rangkaian akhir dari roda kehidupan manusia di bumi. Menurut ajaran Hindu, roh bersifat immortal (abadi) dan setelah bersemayam dalam jasad manusia, akan bereinkarnasi, tapi sebelum bereinkarnasi, roh akan melewati sebuah fase di nirwana dan akan disucikan; dan sesuai dengan catatan kehidupan seseorang di bumi (karma) maka roh akan dikirim ke kasta rendah atau tinggi, dan kremasi merupakan proses penyucian roh dari dosa-dosa yang telah lalu.


Secara filosofis, di Bali ada beberapa sarana utama yang dipakai dalam upacara kematian (ngaben), sesuai naskah Yama Purwwa Tattwa, di antaranya; pisang jati sebagai warna, asep sebagai mata, nasi angkeb sebagai mulut, bubur pirata sebagai suara, dukut lepas sebagai dubur, cawan sebagai dahi, daun kayu sugih sebagai hidung, kusa sebagai bulu mata, jawa sebagai alis, pili-pili sebagai ulu hati, panjang ilang sebagai lidah, ending sebagai bibir, don rotan sebagai punggung, asep sebagai gusi, pengawak sebagai tulang belakang, tebu sebagai lengan, cendana sebagai tulang kelingking, rempah-rempah sebagai inti atau sebagai atma. Panyugjug sebagai jalan, panyugjug mameri sebagai penuntun yang paling depan, baju (wastra) sebagai kulit, kain wangsul sebagai telapak kaki, topi sebagai lutut, ganjang/ganjaran berisi uang sebagai tulang lutut, sangku sebagai kantung kemih, kipas sebagai nafas, kotak sebagal daging, tiga sampir sebagai urat, dan gagadhing, emba-embanan sebagai kepala.
Oleh karena itu, masyarakat Bali tidak menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya namun merupakan sebuah fase kehidupan baru. Oleh karenanya sering mengucapkan pesan seperti yang tercantum dalam Bhagavadgita yaitu, “the end of birth is death, the end of death is birth” yang berarti akhir dari keidupan adalah kematian dan awal dari kematian adalah kehidupan.
5.  Kesenian

Musik, Tarian, dan Patung merupakan tiga bidang kesenian yang menjadi pusat konsentrasi eksplorasi kreatifitas seni masyarakat di Bali.
6.  Musik
Dalam hal seni musik, suara gamelan hampir berdengung di seantero tanah Bali; di pura, alun-alun, istana, dsb. Alat musik tersebut ditemani oleh kelengkapan instrumen musik lainnya seperti: gong, ceng-ceng, saron, gambang, dll. Komposisi instrumen tersebut dapat berubah sesuai dengan wilayah dan peruntukan pertunjukkan yang digelar.


6.  Tarian
Selain seni musik, tarian-tarian khas Bali merupakan pertunjukkan seni yang menarik perhatian. Terdapat berbagai jenis tarian dengan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya semisal: untuk upacara keagamaan, pertunjukkan drama atau musikal, upacara peperangan, dan masih banyak lagi.
Di antara tarian tersebut yang paling terkenal adalah tari Legong Keraton. Kata Legong berasal dari kata “leg” yang artinya luwes atau elastis dan kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai (tari). Selanjutnya kata tersebut dikombinasikan dengan kata “gong” yang artinya gamelan, sehingga menjadi “Legong” yang mengandung arti gerakan yang sangat terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Adakalanya tarian ini dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan tokoh Condong sebagai pembukaan dimulainya tari Legong ini, tetapi ada kalanya pula tari Legong ini dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari Legong ini adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali Condong.

Tari Jauk



Gamelan yang dipakai mengiringi tari Legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Lakon yang biasa dipakai dalam Legong ini kebanyakan bersumber pada:
·         cerita Malat khususnya kisah Prabu Lasem,
·         cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
·         Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
·         Kuntul (kisah burung),
·         Sudarsana (semacam Calonarang),
·         Palayon,
·         Chandrakanta dan lain sebagainya.
Beberapa daerah mempunyai Legong yang khas, misalnya:
·         Didesa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang lain, dinamakan Andir (Nandir).
·         Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari Legong yang memakai topeng dinamakan
Sanghyang Legong atau Topeng Legong.
Selain tari Legong Keraton, tarian lainnya yang tak kalah terkenal adalah tari Kecak, juga tari Pendet yang pada tahun 2009 ini menjadi sorotan media dalam dan luar negeri terkait dengan pengklaiman tari Pendet sebagai warisan budaya negeri Jiran, negeri tetangga Indonesia yang sedang memulai pembangunan jati diri bangsanya.

7.  Keyakinan
Keyakinan masyarakat Bali atau Hindu Bali merupakan fenomena kompleks yang dibangun dari berbagai aspek; Hindu Siwa dan Budha serta berpadu dengan tradisileluhur dan alam. Dalam beberapa upacara adat dan ritual keagamaan terdapat perbedaan dari satu wilayah dengan wilayah lain.

Dalam keyakinan masyarakat Bali, gunung Mahameru/ Meru mempunyai kedudukan yang istimewa di hati mereka. Mahameru menggambarkan titik penting atau sebagai Rama (Bapak) dari kehidupan; darisanalah para Dewa mengatur kehidupan. Di pulau Bali, gunung sebagai kosmos merupakan sesuatu yang dominan dalam keyakinan dan arsitektur. Bagian penting dari ritual keagamaan dalam masyarakat Bali adalah upacara yang dilakukan di gunung tertinggi di Bali yaitu gunung Agung yang dianggap sebagai ‘puser bumi’, dimana di kaki gunung Agung tersebut terdapat Pura Besakih.
Di Pura Besakih, selain perayaan dan upacara tahunan yang diatur oleh kalender keagamaan, ada juga upacara besar untuk penyucian alam semesta yang disebut Eka Dasa Rudra, yang digelar setiap 100 tahun sekali.

Di abad 20 yang lalu tepatnya di tahun 1963, gunung Agung meletus setelah bangun dari tidur selama beberaba abad dan merenggut kurang lebih 1200 orang serta menghancurkan banyak desa.Masyarakat Bali melihat tragedi tersebut sebagai sebuah simbol kemarahan dari para Dewa dan oleh karenanya upacara tersebut kembali digelar pada tahun 1979 atau 1900 berdasarkan perhitungan Saka.
Simbolisasi dari kosmologi gunungan dapat dilihat pada struktur arsitektur Candi Bentar atau karakteristik gerbang yang membentuk sebuah menara yang berlekuk menyerupai dua bagian piramida yang terpisah menjadi dua, yang menggambarkan dua bagian gunung keramat, satu bagian gunung Agung dan satu bagian gunung Batur. Simbol umum lainnya adalah meru; ratusan pagoda yang berdiri di tempat-tempat suci, dan di pelataran candi dibangun pada lapisan batu yang memiliki serangkaian bentuk atap yang menyerupai piramida yang ditutup oleh daun palem hitam dengan jumlah sebelas (jumlah yang ditetapkan berdasarkan keyakinan Hindu terkait dengan tatanan alam semesta).
Keyakinan, upacara, dan perayaan keagamaan membimbing kehidupan masyarakat Bali sejak dilahirkan dan membentuk paduan dalam kehidupan berkeluarga dan sosial. Peraturan agama menentukan tata ruang desa, bentuk candi, struktur rumah, dan sederet hak dan tanggung jawab di desa. Dalam pandangan kalender keagamaan, hari libur, perayaan dan sistem ditetapkan.

-Sumber

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Indonesia

http://www.lagingetop.com/travel/2014/03/26/221/alasan-wisatawan-memilih-bali-sebagai-tujuan-wisata

http://www.wacananusantara.org/mengenal-budaya-bali-lebih-dekat/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar